Welcome to my Blog...

Let's Surf The World...

About Me

My photo
Indonesia
I am a dad.. I am a husband.. I am a son… I am just an ordinary…

Halaman

Cari - البحث - Search - 検索 - paghahanap - de recherche - zoek

Monday, 11 April 2011

Pernikahan aneh Manusia di Dunia ( totally freak )

Menikahi Menara Eiffel

Erika, 39, seorang mantan tentara yang tinggal di San Francisco. Ia memang telah lama mempunyai pengalaman jatuh cinta terhadap benda-benda.

Pertama kali, Erika tergila-gila pada Lance, sebuah busur yang membantunya menjadi seorang pemanah kelas dunia. Rasa cintanya kemudian beralih pada Tembok Berlin. Ia bahkan mengklaim diri memiliki hubungan fisik dengan sepotong pagar yang ia simpan di dalam kamar.

Tetapi kepada Menara Eiffel, Erika menjatuhkan pilihan terakhirnya. Di tengah pesta pernikahan sederhana yang dihadiri kerabat dekat pada 4 Juni 2008, ia mengucap cinta dan janji setia.

Seperti dikutip Telegraph, sejak pernikahan itu, ia pun sengaja menggunakan nama Erika La Tour Eiffel. "Saya hanya tidak mengerti bagaimana banyak pasangan bisa memiliki anak dari hasil hubungan mereka, tapi pada akhirnya dicampakkan," ujarnya.

Menikahi Diri Sendiri
Liu Ye, 42, pria asalZhuhai, China begitu mencintai dirinya sendiri. Sampai-sampai, ia nekat menggelar pesta pernikahan tradisional dengan dirinya sendiri di hadapan lebih 100 tamu undangan.

Ia mengabadikan gambar dirinya di atas sebuah papan styrofoam dengan dandanan bak pengantin wanita bergaun merah. "Ada banyak alasan untuk menikahi diriku sendiri, tetapi terutama untuk mengungkapkan ketidakpuasan terhadap kenyataan," kata Lui.

Liu membantah tuduhan sejumlah orang bahwa ia gay. Ia melakukan hal 'gila' itu hanya untuk mengekspresikan dirinya sebagai seorang narsistik. "Pernikahan ini membuat saya utuh kembali definisi saya tentang perkawinan berbeda dari orang lain," katanya menyingkap alasan menikahi diri sendiri.

Upacara pernikahan berlangsung sangat sakral sesuai adat masyarakat China. Upacara juga dihadiri satu pengiring pengantin wanita dan satu pengiring mempelai pria. Semua tradisi ia ikuti demi menghormati nenek moyang dan para tamu yang hadir.

Menikahi Bantal
Cinta sejati terkadang tampil dalam berbagai bentuk. Seperti yang dialami Lee Jin-gyu. Pria asal Korea ini memberanikan diri menikahi bantal 'dakimakura' kesayangannya yang tertempel gambar karakter anime.

Bantal tercinta Lee menampilkan karakter 'Fate Testarossa', yang diambil serial anime 'gadis ajaib' yaitu Mahou Shoujo Lyrical Nanoha.

Pemuda 28 tahun yang dijuluki 'otaku' (gabungan antara obsesif dan aneh) ini menikahi 'mempelainya' yang tampil dengan gaun pengantin internasional. Pernikahan aneh diadakan dengan sangat serius, lengkap dengan imam dalam sebuah upacara khusus. Tak heran jika pernikahan aneh ini mendapat publikasi luas dari berbagai media.

Cara Mancing Unik Para Nelayan Srilangka....in

Masih pagi, sekitar setengah enam pagi, ketika matahari mulai terbit, Nelayan-nelayan di Kathaluwa, Srilanka, sudah berada di atas posisinya masing-masing, berusaha untuk selalu dalam keadaan seimbang, berpijak pada tiang-tiang kayu 2 meter di atas terumbu karang. Tangkapan hari ini akan menentukan ada tidaknya makanan di meja makan mereka nanti malam.


Nelayan-nelayan ini akan duduk di atas batang melintang yang disebut petta yang terikat pada tiang vertikalnya yang ditanam di dalam terumbu karang. Mereka berpegangan dengan satu tangan sementara tangan lainnya memegang pancing. Mereka berharap memperoleh ikan baring (koraburuwa) dan ikan mackerels (bolla), yang nanti akan disimpan dalam tas plastik yang tergantung di pinggang atau di tiang. Tiang ini panjangnya 3-4 meter dengan sekitar 1,5 meternya tertanam di terumbu karang.


Mencari ikan dengan cara ini merupakan tradisi dari sekitar hanya 500 keluarga pemancing di distrik Galle, barat daya Srilanka, khususnya di sekitar kota-kota Kathaluwa dan Ahangama. Tidak jelas bagaimana dan kapan tradisi ini dimulai, tapi beberapa sesepuh di sana mengungkapkan bahwa tradisi ini sudah dimulai sejak Perang Dunia II.

Memancing di masa itu dilakukan diatas permukaan lautan yang menonjol keluar. Karena tempatnya yang tidak mencukupi untuk semua nelayan, beberapa diantaranya menggunakan tiang-tiang besi bekas perang dengan menanamnya di terumbu karang untuk pijakan. Karena besi makin lama makin jarang, mereka akhirnya juga menemukan bahwa kayu juga cukup kuat untuk ditanam dan dijadikan pijakan memancing.



Kenapa mereka tidak menggunakan jala ? Menurut mereka dengan menggunakan jala ikan akan sangat lebih terganggu dan membuat persediaan ikan akan lebih cepat habis dan menghilang. Mencari ikan dengan tradisi menggunakan petta ini berarti tidak serakah dan tidak justru mengusir ikan, sehingga para nelayan ini akan terus tetap bertahan hidup. Alhasil mereka ini hanya bisa menunggu dengan sabar di atas tiang-tiang tanpa kata-kata, dan hanya berusaha menarik ikan dengan cara yang tradisional.

Menjadi nelayan seperti ini juga berarti bahwa hidup mereka harus mengikuti pula cara hidup ikan-ikan buruan mereka. Ikan-ikan di sini akan muncul pada awal angin musim barat daya dan biasanya pada pagi-pagi sekali dan sore hari, sehingga paling tidak nelayan-nelayan ini akan bekerja dua kali sehari. Tradisi ini terus diwariskan dari para orangtua kepada anak-anaknya.



Nelayan-nelayan tradisonal seperti ini seperti barang seni yang hampir sekarat dimana banyak pihak justru memburu ikan dengan cara-cara yang justru membuat ikan-ikan “menjauhi” manusia. Tidak banyak masyarakat yang punya pemikiran untuk membuat ikan-ikan buruan ini merasa tidak “terganggu”.